K.H. Ali Imron (Ulama Kharismatik dan Membumi)

26

K.H. Ali Imron lahir pada hari rabu 15 Oktober 1936 dan merupakan putra ke empat dari Sembilan bersaudara pasangan  Hadaratussyaikh Mama K.H. Muhammad Faqih dan Hj. Maryamah, beliau menikah dengan Hj. Ido Hamidah salah satu putri dari K.H. Ruhiyat pengasuh Pondok Pesantren Cipasung, atau tepatnya saudari kandung K.H. Ilyas Ruhiat, Rais `Am PBNU 1991-1999, dan dari pernikahannya tersebut beliau dikaruniai 7 orang putra dan 4 orang  putri , yaitu:

  • H. Ahmad Faisal Imron
  • H. Ahmad Fauzi Imron
  • H. Ahmad Luthfi
  • H. Ahmad Fahmi Mubarok.
  • Hj. Elly alawiyah
  • Ahmad Makki (alm)
  • H. Ahmad Fuad Ruhiyat
  • Hj. Nur Aisyah
  • Hj. Zia Mahmudah
  • Hj. Ema Siti Maryamah
  • Ahmad Win (alm)

Selepas mengenyam pendidikan di SR ( sekolah rakyat) di Lemburawi, Ciparay, pada tahun 1948, Pak Haji, demikian sapaan masyarakat setempat, atau pada waktu kecil lebih akrab dengan panggilan “Aceng”, meneruskan sekolah serta mondok di Pondok Pesantren Gunung Puyuh Sukabumi selama 3 tahun. Dan mengikuti pesantren kilat (pasaran) di beberapa pesantren ternama di Sukabumi, Cianjur dan Bogor. Rasa haus akan ilmu, telah mendorong beliau keluar dari Gunung Puyuh, untuk meneruskan pengembaraan ilmiyahnya ke pondok pesantren Al-Islamiyah Menes Pandeglang Banten. Kemudian Pada tahun 1951-1952 pernah tercatat sebagai salah satu mahasiswa di Akademi Bahasa Asing di Cikini Raya, Jakarta Pusat. Kemudian pada tahun 1952-1963 kembali menjadi santri salah satu pesantren yang sangat terkenal di Jawa Barat, yaitu Pondok Pesantren Cintawana, Singaparna, Tasikmalaya. Sewaktu  mondok disana (Cintawana -red), beliau ditugaskan oleh gurunya (Almarhum K.H. Ishak Farid) untuk studi banding ke beberapa pondok pesantren di Jawa Tengah, Jawa Timur serta Madura. Sebagai hasil dari study banding, di pondok pesantren Cintawana pengajian santri ditetapkan dengan sistim klasikal.

BERIKUT PENGGALAN PERJALANAN K.H. ALI IMRON:

Tahun 1958 mendirikan majelis Wajib Belajar sebagai cikal bakal Madrasah Ibtidaiyah Baitul Arqom.

Tahun 1961 bersama ibunda dan kakanda tercinta menunaikan ibadah haji ke Baitulloh.

Tahun 1967 mendirikan Pendidikan Guru Agama (PGA) 4 tahun sebagai embrio berdirinya Mts dan MA Baitul Arqom.

Tahun 1976 mendirikan sekolah Tinggi Ilmu Syahriah Filial (Kelas Jauh) IAIN Sunan Gunung Djati Bandung.

Tahun 1998 tepatnya 28 April mendidikan Pondok Pesantren Al-Istiqomah, Maruyung  Ciparay.

PENGALAMAN ORGANISASI :

  • Tahun 1976 Ketua GP Ansor Kecamatan Pacet.
  • Tahun1970 Ketua MWC NU Kecamatan Pacet.
  • Tahun 1972 Pengurus PCNU  NU Kabupaten Bandung.
  • Tahun 1979 Katib Syuriah PCNU Kabupaten Bandung.
  • Tahun 1982 Katib Syuriah PWNU Provinsi Jawa Barat.
  • Tahun1989-1999 Rois Syuriah PCNU Kabupaten Bandung.
  • Tahun 1991-2001 Wakil Rois Syuriah PWNU Propinsi Jawa Barat.
  • Tahun 1999-2004 Mustsyasar PCNU Kabupaten Bandung.
  • Tahun 1991-1995 Ketua MUI Kabupaten Bandung.
  • Tahun 1991 duta BKKBN dari Indonesia bersama lima kyai ke lima Negara di Timur Tengah (Tunisia, Yordania, Mesir, Saudi Arabia dan Maroko) dan kunjungan ke dua negara eropa (Italia, Belanda).
  • Tahun 2001-2006 Mutsyasar PWNU Propinsi Jawa Barat.

Bijaksana, itulah kata pertama yang selalu muncul dari setiap orang yang mengenal beliau ketika ditanya tentang bagaimana pendapat mereka tentang sosok K.H. Ali Imron. Hal tersebut sudah barang tentu tidak mengherankan, karena dalam diri beliau mengalir darah waliyullah yang sangat terkenal akan kearifan dan kebijaksanaannya, yaitu Raden Syarif Hidayatullah yang lebih terkenal dengan julukan Kanjeng Sunan Gunung Jati. Tepatnya, beliau merupakan keturunan ke-17 dari kanjeng Sunan. Dalam hal afiliasi dakwah beliau ke dalam organisasi Nahdlatul Ulama (NU), dapat dipastikan itu tiada lain karena mainstream dakwahnya sangat sinkron dengan pola dakwah NU yang mengedepankan pendekatan sosiologis kultural dari pada yuridis formal. Di saat banyak para ulama Jawa Barat yang “kecewa” dengan sikap NU yang cenderung lembek dalam mempertahankan  klausul syariat Islam dalam Piagam Jakarta, namun K.H. Ali Imron malah turut bergabung dengan organisasi keagamaan tersebut hingga akhir hayatnya.

“Beliau itu merupakan figur ulama yang sangat bijak. Suatu  ketika, saat saya turut membaktikan diri menjadi asatidz di Pesantren Baitul Arqom yang beliau pimpin, saya diberhentikan oleh salah satu keluarga yang juga memiliki wewenang pengurusan pesantren, dengan alasan terindikasi bukan sebagai warga NU. Namun ketika beliau mengetahui pemecatan tersebut, saya pun dipertahankan menjadi asatidz pesantren”. Demikian dituturkan oleh Dr. Agus Burhanudin, M. M.Pd., salah satu muridnya yang berhasil dicetak sebagai pendidik handal oleh beliau, dan kini menjadi salah satu dosen tetap di STAI Baitul Arqom.

Pada hari senin 28 Rabiul Tsani 1426 H., bertepatan dengan tanggal 06 juni 2005 M., jam 16.30 WIB., K.H. Ali Imron atau yang dikenal dengan sebutan ”Pak Haji“ berpulang ke Rahmatullah meninggalkan kita untuk selamanya-lamanya.

Banyak pihak yang merasa kehilangan dengan wafatnya K.H. Ali Imron, dari mulai Pemerintah setempat hingga masyarakat kecil. Beragam ungkapan bela sungkawa serta berjubelnya pelayat adalah bukti betapa mereka sangat menghormati dan menyayangi tokoh yang satu ini. Terlalu banyak kenangan yang beliau tinggalkan, terutama kearifan dan kebijaksanaannya yang akan senantiasa mereka ingat dan akan selalu menjadi bahan cerita bagi generasi berikutnya.

Pesantren Baitul Arqom sebagai tempat penyemaian benih-benih ulama, telah kehilangan sumber pembibitnya. Sosok yang responsive dengan persoalan umat. Sosok yang tawadhu, bersahaja, arif dan bijaksana kini hanya tinggal kenangan. Namun perjuangan belum usai, tinggal kita sebagai anak dan murid-muridnya yang harus meneruskan perjuangan serta langkah dan pemikirannya.

Komentar-komentar Saksi Hidup

“Kalau bicara seorang ayah, papah tidak hanya seoarang ayah di rumah ini, tapi papah juga seorang ayah buat banyak masyarakat, jadi dapat dikatakan kalau hanya bertanya kepada saya itu tidak cukup. Di mata keluarga papah tidak hanya jadi seorang ayah yang baik tapi juga sahabat yg baik, pemimpin yang bijaksana, selalu memposisikan diri dengan baik sesuai dengan keadaan anak-anaknya, semua tentang papah begitu berkesan, tidak cukup diungkapkan dengan kata-kata.” ( Hj. Ema Siti Maryamah)

K.H. Ali Imron adalah sosok pemimpin yang lemah lembut tapi tegas dalam berprinsip, pemikiran beliau yang cemerlang menjadikannya dapat diterima oleh semua pihak, namun meskipun begitu, beliau tetap tawadlu dan tidak ambisius akan jabatan. Beliau adalah sosok yang kharismatik, dan sulit untuk mendapatkan penggantinya. (KH. Didin Saefuddin Ibad – anggota DPRD Kab. Bandung Fraksi PKB)

“Pak haji adalah pendidik yang sederhana tapi sangat berkesan dan disegani oleh para santrinya, beliau adalah sosok yang tegas dan bijaksana, dalam memutuskan suatu hal beliau selalu banyak melakukan pertimbangan terlebih dahulu, itu menjadikannya sosok yang kharismatik. (Drs. Ahmad Yani)”

“sulit sekali mendeskripsikan sosok “bapa”, beliau adalah sosok yang sederhana, pemimpin yang bijak, guru yang alim, terlebih beliau tidak pernah membeda-debakan status sosial seseorang, sehingga dapat menjadikannya sosok “bapak” bagi semua masyarakat. (H. Maman)

“ketika berpapasan dengan beliau (waktu itu saya masih kuliah di STAI Baitul Arqom semester 3) saya tidak bisa berbuat dan berkata apa-apa, karena takdim disertai malu sehingga hanya berdiam diri serta  menundukan kepala. Tetapi  dengan tawadlunya beliau, walaupun kepada seorang  murid yang dari umur apalagi ilmunya sangat ‘jomplang’ sangat jauh, beliau yang petama kali mengucapkan salam ‘assalamu alaikum…’. Sampai merinding bulu kuduk saya seraya langsung menghampiri dan mencium tangan beliau berharap mendapat keberkahan ilmu darinya.   ( Abdul rohman – alumni STAI Baitul Arqom)

Penulis : Cep Agung Muharam & Abdul Rohman ( alumnus Baitul Arqom dan Mahasiswa Pasca UNINUS)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here