Taushiyah

(1441 H) Era Revolusi Industri 4.0

Penulis: Repy Hapyan, M.Pd.
Pengurus LTN NU Kab Bandung

Tradisi umat islam Indonesia menjadi ciri khas yang tak ditemukan di negara-negara lain. setiap momen selalu menjadi nilai hikmah tersendiri yang begitu erat dengan nilai spiritual. Peringatan maulid Nabi besar Muhammad SAW, Peringatan Isro Miraj, Haol, manakib, tahlilan serta kegiatan-kegiatan lainya yang mempunyai spirit syarat makna dalam mendekatkan, mengingatkan, mensyiarkan, melestarikan hingga meneguhkan (kembali) Islam yang ada di Indonesia. Peristiwa ini diperingati berulang-ulang setiap tahunya, turun temurun telah menjadi habituasi proses budaya.

Peringatan 1 muharam yang popular disebut dengan tahun baru Islam ini syarat akan makna bagaimana sejarah peristiwa besar berupa peristiwa hijrah Nabi besar Muhammad SAW dari kota Mekah ke Madinah pada tahun 622 M yang menjadikan penamaan kalender Islam. Yang sebelumnya masyarakat Arab tidak menggunakan sistem kalender tahunan untuk memperingati suatu peristiwa. Masyarakat arab hanya menggunakan sistem hari dan bulan. Hal tersebut dapat dibuktikan dengan kelahiran Nabi Muhammad SAW pada tahun Gajah. Masyarakat arab tidak menentukan angka dalam menentukan tahun.

Makna peringatan setiap peristiwa mengingatkan begitu cepatnya waktu mengikuti kehidupan. Ini barangkali yang menjadikan alasan kita untuk tetap mengambil hikmah dalam setiap peristiwa seperti yang ada di dalam Al-quran: “Demi waktu. Sesungguhnya semua manusia merugi, kecuali yang beriman dan melakukan kebaikan, yang saling berwasiat dalam hak dan kecermatan mengelola kesabaran.” Juga di dalam Salahudin A (2017:373) waktu diukurnya dalam satuan benda; waktu adalah uang. Dalam masyarakat yang suka berperang, waktu diserupakan pedang; apabila keliru menggunakanya maka leher kita lah yang terpenggal. Kepada waktu juga orang sunda menyuruh berdamai dengan kreatif, “ngindung ka waktu, mibapa ka jaman”.
Berbagai rujukan/referensi untuk memperkuat argumentasi setiap ritual yang dilakukan sebagaian umat (civillation) tidak serta merta hanya sebuah seremonial melainkan syarat akan makna. Yang mana peringatan ini telah membumi di bumi nusantara ber abad-abad lamanya. Memperkenalkan peristiwa-peristiwa sejarah lewat media peringatan misal; pawai obor (menerangi kegelapan), tabliq akbar (menyampaikan kebaikan), kesenian music yang tampil (keindahan keberagaman), bersholawat (menyerukan salam ke baginda Nabi), serta instrumen lainya yang tidak lepas dari value religiusitas. Hal tersebut di indahkan di kelola dengan baik atas dorongan, berkorban, keinginan yang kuat setiap insan hingga ritual keagamaan ini selalu menjadi hal di nantikan.

Hijrah sendiri diartikan sebagai perjuangan meninggalkan hal-hal buruk ke arah yang lebih baik. Dan, kini peristiwa hijrah diartikan sebagai pembelajaran nilai kebaikan untuk diri sendiri, seperti berani meninggalkan sesuatu yang buruk yang merugikan diri sendiri dan beralih pada sesuatu yang baik. Lalu kita ini akan meninggalkan tahun 1440 hijriyah dan masuk pada gerbong tahun 1441 hijriyah. Bahasa mibapa ka jaman yang artinya kita tidak boleh alergi dengan perubahan peristiwa yang terjadi hingga dapat hidup beriringan dan dapat memenangkannya. Menghargai, menghormati, seperti kita mengormati orangtua kita.

Revolusi Industri 4.0 (1441 H)
Fase saat ini menjadi masa transisi bagaimana eksistensi keilmuan juga eksistensi manusia menurun dibanding dengan kecepatan teknologi. Semuanya di tuntut untuk responsif dalam menghadapi abad 21 ini. Umat islam diharapkan inklusifitas dalam mengahadapi tantangan perubahan zaman ini seperti obor yang menerangi kegelapan, selalu tabayun terkonfirmasi segala kabar apakah baik, bermanfaat jika di sebarkan, atau malah ikut menyebarkan yang tidak jelas kebenaranya (Tabligh) atau malah memancing amarah, mebodohi para pembaca. Selanjutnya alat music yang begitu punya peran masing-masing dalam mencipatakan suara keindahan; ketenangan, memompa semangat, tenggelam pada kesunyian bukan malah menggunjing perbedaan.
Semua tradisi tersebut mejadi titik temu, titik tumpu hingga titik tuju (ngigeulan jaman) pada kehidupan berbangsa dan bernegara mempertegas bahwa agama, budaya, nasionalisme tidak dapat dipisahkan. Peringatan ritual keagamaan ini di lakukan untuk memupuk kembali jiwa-jiwa yang telah lama kering yang sedang membutuhkan siraman, untuk terus tumbuh sikap-sikap inklusifitas umat dalam mengahadapi tantangan zaman yang kian cepat. Identitas bangsa yang kian kayas untuk tetap kokoh sebagai jati diri bangsanya sebagai umat dan warga Dunia.

Tags
Tampilkan Lebih

Tinggalkan Balasan

Close
Close
%d blogger menyukai ini: