Keutamaan romadhon menuju hari nan fitri

1

Oleh : Sansan Wieyana

!لله أكبر الله أكبر الله أكبر الله أكبر الله أكبر الله أكبر الله أكبر الله أكبر الله أكبر
اَلْحَمْدُ لِلّهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ وَنَتُوْبُ إِِلَيْهِ وَنَعُوْذُ بِاللهِ مِنْ شُرُوْرِ أََنْفُسِنَا وَسَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا مَنْ يَهْدِ اللهُ فَلاَ مُضِلَّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْ فَلاَ هَادِيَ لَهُ. اَشْهَدُ اَنْ لاَ اِلهَ اِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ وَاَشْهَدُ اَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ وَالصَّلاَةُ وَالسَّلاَمُ عَلَى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى ءَالِهِ وَاَصْحَابِهِ وَمَنْ تَبِعَهُ اِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ. اَمَّا بَعْدُ: فَيَاعِبَادَ اللهِ : اُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِي بِتَقْوَ اللهِ وَطَاعَتِهِ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُوْنَ. قَالَ اللهُ تَعَالَى فِى الْقُرْآنِ الْكَرِيْمِ: يَااَيُّهَا الَّذِيْنَ اَمَنُوا اتَّقُوا اللهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلاَ تَمُوْتُنَّ اِلاَّ وَاَنْتُمْ مُسْلِمُوْنَ
Allahu Akbar 3X Walillahilhamdu
Kaum Muslimin Yang Berbahagia.
Kembali puji dan syukur kita panjatkan kepada Allah swt yang telah memberikan kenikmatan beribadah kepada kita, khususnya pada bulan Ramadhan yang baru saja kita lalui, bahkan ibadah shalat Id kita pada pagi ini, Karenanya kita berharap semoga semua itu dapat mengokohkan ketaqwaan kita kepada Allah swt dalam menjalani sisa kehidupan kita di dunia. Ketaqwaan yang membuat kita bisa keluar dari berbagai persoalan hidup dan mengangkat derajat kita menjadi amat mulia dihadapan Allah swt.
Shalawat dan salam semoga selalu tercurah kepada Nabi kita Muhammad saw, beserta keluarga, sahabat dan para penerusnya hingga hari akhir nanti.
Allahu Akbar 3X Walillahilhamdu
Kaum Muslimin Yang Berbahagia.

Pagi ini kita memiliki perasaan yang sama, yakni gembira. Gembira bukan karena banyak makanan di rumah kita, bukan karena uang kita lebih dari cukup atau bukan pula karena pakaian kita baru. Tapi kita gembira karena berada dalam kesucian jiwa, kebersihan hati setelah melaksanakan ibadah Ramadhan. Rasulullah saw bersabda:
إِنَّ اللهَ عَزَّ وَجَلَّ فَرَضَ صِيَامَ رَمَضَانَ وَسَنَنْتُ قِيَامَهُ فَمَنْ صَامَهُ وَقَامَهُ إِحْتِسَابًا خَرَجَ مِنَ الذُّنُوْبِ كَيَوْمِ وَلَدَتْهُ أُمُّهُ.
Allah yang Maha Mulia lagi Maha Tinggi mewajibkan puasa Ramadhan dan aku mensunnahkan shalat malam harinya. Barangsiapa puasa Ramadhan dan shalat malam dengan mengharap ridha Allah, maka dia keluar dari dosanya seperti bayi yang dilahirkan ibunya (HR. Ahmad).

Karena itu seharusnya kitapun bersedih karena Ramadhan yang sudah berlalu belum kita jalani ibadah di dalamnya dengan penuh kesungguhan, banyak diantara kita yang berpuasa hanya tidak makan dan tidak minum, shalat tarawih hanya mengejar jumlah rekaat tanpa kehusyuan, tilawah al-Qur’an yang hanya mengejar target khatam tanpa berusaha memahaminya sampai begitu sayang kita kepada harta sehingga tidak mau bersedekah atau hanya sedikit sedekah harta yang kita keluarkan dibandingkan dengan banyaknya harta yang kita miliki. Padahal belum tentu tahun depan Ramadhan bisa kita dapati lagi karena mungkin saja umur kita tidak sampai pada Ramadhan tahun depan sebagaimana hal itu dialami oleh orang tua kita, saudara-saudara, teman dan jamaah kita hingga tokoh-tokoh kita yang sudah lebih dahulu dipanggil oleh Allah swt, karenanya kita doakan mereka yang sudah mendahului kita semoga diampuni dosa-dosa mereka, diluaskan kubur mereka dan dimasukkan mereka ke dalam surga yang penuh kenikmatan oleh Allah swt.
Allahu Akbar 3X Walillahilhamdu
Kaum Muslimin Yang Dimuliakan Allah.
dih.”

Oleh sebab itu, pada pagi hari yang mulia ini, kita memohon dan berharap kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala empat hal;
Pertama, semoga Allah Subhanahu wa Ta’ala berkenan mengampuni dosa-dosa kita dan memaafkan kesalahan-kesalahan kita. Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda:

مَنْ صَامَ رَمَضَانَ إِيْمَاناً وَاحْتِسَاباً غُفِرَ مَا تَقَدَّمَ بِذَنْبِهِ

“Barangsiapa puasa pada bulan Ramadhan atas dasar iman dan mengharap pahala Alloh Swt, niscaya diampuni segala dosanya yang telah lalu.”

Dan amat rugi orang yang bertemu dengan bulan Ramadhan, namun dosa-dosanya tidak diampuni oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala. Wal’iyadzu billah.

Dalam sebuah hadits disebutkan bahwa malaikat Jibril ‘Alaihissalam pernah datang kepada Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam seraya berkata, “Wahai Muhammad, barangsiapa yang berjumpa dengan bulan Ramadhan namun tidak diampuni dosa-dosanya oleh Allah, maka akan dijauhkan oleh Allah (dari rahmat-Nya(.” Maka Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam mengaminkan doa tersebut.

Kedua, kita berharap kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala kiranya Dia menerima amal ibadah shaum kita satu bulan yang lalu.

Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda, “Allah ‘Azza wa Jalla berfirman:

الصَّوْمُ لِي وَأَنَا أَجْزِي بِهِ يَدَعُ شَهْوَتَهُ وَأَكْلَهُ وَشُرْبَهُ مِنْ أَجْلِي وَالصَّوْمُ جُنَّةٌ وَلِلصَّائِمِ فَرْحَتَانِ فَرْحَةٌ حِينَ يُفْطِرُ وَفَرْحَةٌ حِينَ يَلْقَى رَبَّهُ وَلَخُلُوفُ فَمِ الصَّائِمِ أَطْيَبُ عِنْدَ اللَّهِ مِنْ رِيحِ الْمِسْكِ

“Shaum adalah milik-Ku, dan Akulah yang akan memberikan ganjarannya. Tatkala shaum seorang hamba meninggalkan syahwat, makan, dan minumnya karena-Ku. Shaum adalah perisai(dari perbuatan maksiat). Dan bagi orang yang berpuasa mendapatkan dua kebahagiaan; kebahagiaan di saat berbuka dan kebahagiaan di saat bersua dengan Rabbnya. Sungguh bau mulut orang yang berpuasa lebih wangi di sisi Alloh Subhanahu wa Ta’ala daripada kasturi.”

Ketiga, kita berharap kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala agar kiranya Dia mengkaruniakan pada kita kesempatan untuk bertemu dengan bulan Ramadhan pada tahun-tahun mendatang. Karena Ramadhan adalah kesempatan emas bagi seorang mukmin untuk mempersiapkan dirinya sebagai insan yang bertaqwa.

Keempat, kita berharap kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala, kiranya Dia menjadikan kita semua tergolong dari golongan hamba-hambaNya yang bertaqwa, serta mengilhamkan pada kita istiqamah dan konsisten dalam bertaqwa selama kita berada didunia. Amiin.
Ma’asyiral Muslimin –rahimakumullah-
Ketahuilah, bahwa keadaan ummat Islam pada pagi hari ini terbagi kepada tiga golongan;
Pertama: golongan yang tetap berada di atas kebaikan dan taat, maka tatkala bulan Ramadhan tiba, mereka menyingsingkan lengan baju mereka, melipat gandakan kesungguhan mereka, dan menjadikan Ramadhan sebagai ghanimah Rabbaniyah (harta rampasan perang karunia Allah Subhanahu wa Ta’ala dan pemberian ilahiyah, memperbanyak kebaikan, menyongsong rahmat, menyusul yang terlewati, semoga ia mendapatkan anugerah. Maka tidaklah Ramadhan berlalu kecuali mereka telah memperoleh bekal yang besar, kedudukan mereka menjadi tinggi di sisi Allah Subhanahu wa Ta’ala, kedudukan mereka bertambah tinggi di surga dan semakin jauh dari neraka.

Kedua: Golongan yang sebelum Ramadhan berada dalam kelalaian, lupa, dan bermain. Maka tatkala tiba bulan Ramadhan, mereka tekun beribadah, puasa dan shalat, membaca Al-Qur`an, bersedekah, air mata mereka berlinang, dan hati mereka khusyu’, akan tetapi setelah Ramadhan berlalu mereka kembali seperti semula, kembali kepada kelupaan mereka, kembali kepada dosa mereka.
Ketiga: Golongan yang datang dan perginya Ramadhan, kondisi mereka sama seperti keadaan mereka sebelumnya. Tidak ada sesuatu pun yang berubah dari mereka. Tidak ada perkara yang berganti. Bahkan, kemungkinan dosa mereka bertambah, kesalahan mereka menjadi lebih besar, catatan amal mereka bertambah hitam, dan leher mereka bertambah menyala ke neraka. Mereka itulah orang-orang yang benar-benar merugi. golongan seperti ini tidak ada daya kecuali mendoakan mereka agar bertaubat yang nashuh, taubat yang tulus, dan barangsiapa yang bertaubat niscaya Allah Subhanahu wa Ta’ala menerima taubatnya

Allahu Akbar, Allahu Akbar, Allahu Akbar Walillahil Hamd
Ketahuilah bahwa di antara musibah terbesar yang menimpa ummat ini adalah, hilangnya kepekaan mereka terhadap bentuk kemungkaran dan kesesatan. Mereka sudah tidak lagi peduli dengan banyaknya bermunculan aliran-aliran sesat yang merusak aqidah ummat dan menjerumuskan mereka ke dalam kubang kesesatan dan kekufuran.
Kaum muslimin-muslimat jamaah Idul Fitri rahimakumullah,

Dari uraian di atas maka telah cukup bagi kita mengetahui fadhilah dan keutamaan hari raya Idul Fitri, tinggal bagaimana kita dapat mengamalkannya dengan sebaik-baiknya. Dan alangkah bahagianya, apabila kita dapat mempergunakan kesempatan di hari yang penuh berkah itu dengan saling bermaaf-maafan, bersilaturahmi, saling menziarahi atau mengunjungi antar kerabat dan sesama.

Sebagaimana disebutkan dalam hadits:

مَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاللهِ وَالْيَوْمِ الْأَخِرِ فَلْيَصِلْ رَحِمَهُ. رواه البخاري

Artinya: “Barangsiapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir, maka hendaknya ia menyambung tali silaturrahim.” (HR. Bukhari).

Dan apabila ini dipraktekkan pada hari Idul Fitri, sebagaimana kita kenal di Indonesia dengan istilah halalbihalal, orang jawa mengatakan sonjo-sonjo; maka ini sungguh merupakan amalan dan kebiasaan yang baik sekali, yang menurut al-Hafidh Ibnu Hajar al-‘Atsqolaniy hukumnya adalah sunnah.

Selanjutnya tentang tatacara silaturahmi mendahulukan orang tua kita, lalu kepada famili dan kerabat kita, kemudian kepada guru-guru kita, setelah itu barulah kita bersilaturahmi kepada para pinisepuh dan handai tolan pada umumnya.

Hadirin jamaah Idul Fitri yang dirahmati Allah,

Keunggulan dengan saling mengunjungi mushofahah atau berjabat tangan. Sebagaimana hadis dari al-Barro’ Ibni al-Azib, Rasulullah SAW bersabda;

مَا مِنْ مُسْلِمَيْنِ يَلْتَقِيَانِ وَيَتَصَافَحَانِ إِلاَّ غُفِرَ لَهُمَا قَبْلَ أَنْ يَتَفَرَّقَا. رواه أبو داود والترمذي

Artinya: “Tiada dua orang muslim yang saling berjumpa lalu saling berjabat tangan, kecuali diampuni dosanya sebelum mereka berpisah.” (HR. Abu Dawud dan Tirmidzi).

Hadirin-Hadirot sholat Idul Fitri yang berbahagia,

Berziarah atau berkunjung tentu tidak terbatas kepada orang yang masih hidup, tetapi juga kepada orang yang telah mati pun kita dianjurkan untuk mengunjunginya, sebagaimana anjuran Rasulullah SAW:

زُوْرُوْا القُبُوْرَ فَإِنَّهَا تُذَكِّرُكُمُ اْلآخِرَةَ. رواه ابن ماجه

Artinya: “Berkunjunglah kalian ke kubur, karena ziarah kubur dapat mengingatkan kalian akan kematian.” (HR. Ibnu Majah).

Oleh karena itu sebagaimana berziarah kepada orang yang masih hidup, maka dalam berziarah kepada orang mati pun kita dituntun untuk memperhatikan tatakramanya, yaitu dengan mengucapkan salam kepada ahli kubur:

السَّلَامُ عَلَيْكُمْ أَهْلَ الدِّيَارِ مِنَ الْمُؤْمِنِينَ وَالْمُسْلِمِينَ، وَإِنَّا إِنْ شَاءَ اللهُ بِكُمْ لَاحِقُونَ. أَسْأَلُ اللهَ لَنَا وَلَكُمُ الْعَافِيَةَ. رواه مسلم

Jamaah sholat Idul Fitri yang dimuliakan Allah,

Dengan apa yang telah diuraikan di atas, semoga kita dapat mengakhiri bulan Ramadlan dengan akhir yang baik, khusnul khotimah, dan menyambut hari Raya Idul Fitri dengan tetap meningkatkan amal ibadah dan ketakwaan kita kepada Allah SWT. Dan semoga kita diberi kekuatan untuk tetap istiqomah dalam beribadah setelah Ramadlan ini hingga bertemu dengan Ramadlan tahun depan. Âmîn yâ Robbal ‘âlamin.

”Bersihkan Hati, Sucikan Pikiran di hari nan Fitri. Selamat hari Raya idul Fitri 1439 H

=== الخُطْبَةُ الثَّانيةُ ===

اللَّهُ أَكْبَرُ، اللَّهُ أَكْبَرُ، اللَّهُ أَكْبَرُ،

اللَّهُ أَكْبَرُ، اللَّهُ أَكْبَرُ، اللَّهُ أَكْبَرُ،

اللهُ أَكْبَرُ. لآإِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَاللهُ أَكْبَرُ. اَللهُ أَكْبَرُ وَلِلَّهِ الْحَمْدُ.

اَلْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ، أَشْهَدُ أَنْ لآإِلَهَ إِلاَّ اللهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا رَسُوْلُ اللهِ. اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى أَلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِيْنَ. أَمَّا بَعْدُ.

فَيَا عِبَادَ اللهِ، اِتَّقُوا اللهَ. أُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِيْ بِتَقْوَى اللهِ فَقَدْ فَازَ الْمُتَّقُوْنَ. وَاتَّقُوا اللهَ مَااسْتَطَعْتُمْ وَسَارِعُوْا إِلَى مَغْفِرَةِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ.

قَالَ اللهُ تَعَالَى: أَعُوْذُ بِاللهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيْمِ. بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ.

يَا أَيُّهَا الَّذِيْنَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقاتِهِ وَلا تَمُوتُنَّ إِلاَّ وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ

وَقَالَ أَيْضًا: إِنَّ اللَّهَ وَمَلائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيمًا. اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى أَلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِيْنَ. اَللَّهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ، وَالْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ، اَلْأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَاْلأَمْوَاتِ. اَللَّهُمَّ ادْفَعْ عَنَّا الْبَلَاءَ وَالْوَبَاءَ وَالْفَحْشَاءَ وَالْفِتَنَ، مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ، وَمِنْ صُفُوْفِ الْمُخْتَلِفَةِ، مِنْ بَلَدِنَا هَذَا خَاصَّةً وَمِنْ بُلْدَانِ الْمُسْلِمِيْنَ عَامَّةً. اَللَّهُمَّ انْصُرْنَا وَالْمُسْلِمِيْنَ، وَاحْفَظْنَا وَالْمُسْلِمِيْنَ، وَفَرِّجْ عَنَّا وَالْمُسْلِمِيْنَ. اَللَّهُمَّ شَطِّطْ شَمْلَ الْكَافِرِيْنَ، اَللَّهُمَّ شَطِّطْ شَمْلَهُمْ، وَفَرِّقْ جَمْعَهُمْ، وَقَلِّلْ عَدَّهُمْ، وَاجْعَلْهُمْ مِنَ الْغَابِرِيْنَ، آمِيْنَ. وَالْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ

عِبَادَ اللهِ. إِنَّ اللهَ يَأْمُرُ بِاْلعَدْلِ وَاْلاِحْسَانِ وَإِيْتآءِ ذِى اْلقُرْبىَ وَيَنْهَى عَنِ اْلفَحْشآءِ وَاْلمُنْكَرِ وَاْلبَغْيِ يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ، فَاذْكُرُوا اللهَ اْلعَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ، وَاشْكُرُوْهُ عَلىَ نِعَمِهِ يَزِدْكُمْ، وَلَذِكْرُ اللهِ أَكْبَرْ

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here